SEJARAH WAKAF

Almarhum H Misbach Notodiharjo

Sehabis pengajian selapanan pasca Pemilu 2009 di Masjid Al Hasanah Meteseh, Cacaban, Magelang, Bapak Haji Misbach Suroto Notodiharjo (selanjutnya disebut Haji Noto) mengungkapan sesuatu kepada KH Muhammad Isa, disaksikan beberapa jemaah masjid.

H Noto : “Pak Kyai, kulo meniko gadhah tanah wonten Semaitan lan kepengen kulo wakafaken.” (Pak Kyai saya punya tanah di Semaitan dan ingin saya wakafkan)

Kyai Isa : “Wakaf kagem punopo Mbah Kaji?” (Wakaf untuk apa Mbah Haji?)

H Noto : “Kagem pondok pesantren Kyai, supados waget damel tabungan kulo wonten akhirat, lan kulo suwun Pak Kyai nderek meernah-mernahaken.” (Untuk pesantren agar bisa menjadi tabungan saya di akhirat. Dan saya minta Pak Kyai ikut membina)

Kyai Isa : “Njih…njih sae..sae niku Mbah Kaji.” (Ya, itu bagus Mbah Haji)

Pembicaraan singkat ini adalah awal dari proses wakaf tanah milik H Noto kepada masyarakat Dusun Semaitan, Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Proses wakaf tak bisa cepat karena Kyai Isa diminta oleh H Noto untuk menghubungi salah satu anak perempuannya yang tinggal di Jakarta. H Noto tak menyebut nama maupun nomor telepon anak yang dimaksud.

Setelah berbicara dengan Kyai Isa, Haji Noto menghubungi anaknya, Eni Wijayati, yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Dia bilang sudah bicara dengan kyai soal rencana wakaf tanah. Tetapi, karena kondisi H Noto yang sedang sakit, dia tak bisa memberikan nama dan alamat lengkap kyai dimaksud. Jadi, selama H Noto sakit, proses wakaf sempat terhenti. Sampai H Noto wafat pada 21 Februari 2010.

Kyai Isa yang merasa mendapat amanah dari almarhum H Noto akhirnya mengungkapkan pembicaraan di atas saat peringatan 40 hari wafatnya H Noto di kediaman almarhum di Meteseh, Magelang. Setelah pengajian, Ustadz Munjazi –warga Meteseh, mengatakan Kyai Isa ingin berbicara dengan seluruh anak H Noto. Lalu, dia menceritakan kejadian di atas kepada keenam anaknya, yaitu Ardaniati, Chamim Ashari, Zulaeha Jarwati, Eni Wijyati, Fahrurozi, Gigih Rahayu Kusumawati serta seorang kerabat bernama Afran Arifin.  Saat itu, turut hadir pula warga Semaitan yaitu H Jamil dan M Arifudin, serta warga Meteseh, Ahmad Munjazi dan Mohammad Toha.

Kyai Isa membuka pembicaraan dengan mengatakan, beberapa bulan yang lalu sekitar bulan Juni 2010 setelah mengisi pengajian di Masjid Al Hasanah Meteseh, Haji Noto menyampaikan keinginannya untuk mewakafkan tanahnya di Dusun Semaitan untuk didirikan pondok pesantren.  Kyai Isa diminta untuk  menjalankan pondoknya,  sedangkan untuk pendiriannya dapat  dibicarakan dengan anak perempuan almarhum yang tinggal di Jakarta (yang dimaksud Depok, Jabar).

Pihak keluarga yang diwakili oleh Eni W menyampaikan bahwa pada hari Ahad, di bulan Juni sekitar jam 10.00 WIB, dia ditelepon oleh Haji Noto.

H Noto : “En, aku wis ketemu  Kyaine mau esuk. Aku ngomongke masalah tanah sing arep dinggo pesantren mengko ben dirembug karo kowe ya. “ (En, saya sudah ketemu Pak Kyai tadi pagi. Saya membicarakan soal tanah yang akan dipakai untuk pesantren. Nanti dibicarakan dengan kamu yah)

Eni : “Bapak ngendiko nopo mawon?” (Bapak bicara apa saja?)

H Noto : “Aku ora ngomong apa-apa, mung kaya ngono kuwi mau, mengko dirembug karo Kyaine yo?” (Saya tidak bicara apa-apa, hanya bicara seperti itu. Nanti dibicarakan dengan Pak Kyai ya?)

Eni : “Pak niku Kyai saking pundi?” (Pak, itu Kyai dari mana?)

H Noto : “Saka Sangubanyu. Kuwi sing tak percaya ngelola samengkone).” (Dari Sangubanyu. Itu nanti yang saya percaya untuk mengelola).

Eni : “Nggih pak, mangkih nek kulo wangsul dibahas malih.” (Ya, Pak. Nanti kalau saya pulang dibicarakan lagi)

Setelah menerima telepon dari Haji Noto, Eni menghubungi Jarwati, kakaknya di Bandung, untuk  menyampaikan hal tersebut.  Namun, pada pertengahan Ramadhan  (5 September  2009 pagi, Haji Noto mengalami hipertensi dan dibawa ke Rumah Sakit Tentara (RS Dr Sujono Magelang) dan dirawat selama 9 hari.  Setelah itu kondisi Haji Noto semakin memburuk hingga bolak-balik masuk rumah sakit sampai wafat.  Selama Haji Noto sakit, keluarga tidak membicarakan masalah rencana Bapak tersebut. Keluarga konsentrasi pada kondisi kesehatan H Noto dan membahas rencana pernikahan anak bungsunya yang merupakan amanah dari Bapak agar menggelar mantu untuk terakhir kalinya. Selama kurang lebih 5 bulan Haji Noto berbaring sakit, sama sekali tidak ada informasi dari manapun sebagai titik terang rencana wakaf.

Pada kesempatan itu, Kyai Isa juga menceritakan pertemuan lanjutan antara dirinya dengan Haji Noto soal rencana wakaf tanah di atas. Pada pertemuan di rumah Haji Noto itu Kyai Isa juga didampingi tokoh Dusun Semaitan.   Ketika Kyai Isa menanyakan jumlah tanah yang akan diwakafkan, Haji Noto menjawab setengah dari tanah yang dimaksud, akan diwakafkan untuk pembangunan pondok pesantren. Pertemuan tersebut menjadi awal dari pembahasan untuk proses wakaf sekalgus pembentukan yayasan.

Posted in Yayasan | Tagged , , , | Leave a comment